Cerita sex Pengantin Baru belah durian saat Pecah Perawan

Cerita Dewasa Pengantin Baru, cerita ml malam pertama pernikahan, cerita hot malam pertama, cerita seks malam pertama,  Cerita Perselingkuhan - Istri teman ku yang ku ajak bersenggama tusukan malam pertama, cerita seks pengantin baru.


Cerita Dewasa Pengantin Baru Pecah Perawan

Cerita Dewasa Pengantin Baru | Setelah lulus dari universitas aku bekerja di salah satu perusahaan swasta di jakarta, meniti karir sebagai eksekutif muda yang merupakan impian banyak orang. Semuanya berjalan normal. Sampai suatu hari kedua orang tuaku yang udah berusia senja menyuruhku menikah dengan salah seorang anak dari kerbat mereka.

Pernah terlintas di kepalaku untuk ngak menuruti kemauan kedua orang tuaku, tetapi apa lagi yang bisa kuperbuat untuk mereka selain menjalani pernikahan tanpa adanya hubungan rasa cinta sebelumnya.

Namaku Bamz, merupakan anak satu-satunya, Apalagi kedua orangtuaku sangat ingin cepat-cepat memiliki cucu dariku

Wanita itu namanya Melda, dia seumuran denganku dia juga bekerja di salah satu perusahaan swasta sebagai general manager. Hari pernikahan kami berjalan lancar, yang kami berdua lakukan hanya tersenyum dan melambaikan tangan saja sepanjang hari.

Malam pertama kami bisa di bilang sangat aneh, ngak ada hiasan pengantin, suasana yang harusnya romantis berubah menjadi sekaku ES batu. Sepanjang malam ngak ada satupun dari kami yang memutuskan untuk membuka pembicaraan terlebih dahulu.

Sampailah matahari mulai menampakan diri, kuputuskan keluar dari kamar ku untuk membuat secangkir teh di dapur. Setengah jam udah dan teh di cangkirku hampir habis,

"Gue ke kantor dulu ya beb, pulangnya mungkin agak kemaleman" ujar Melda sambil mengenakan sepatu di ruang tengah.

Kata-katanya ngak dapat ku hiraukan, seakan terbawa dalam lamunan banyak hal yang menghantui pikiranku, suara pintu depan kemudian menyadarkanku bahwa wanita yang menyapaku itu adalah istriku.

Waktu terasa begitu lambat berjalan, setelah semua pekerjaanku di kantor sudah selesai, kuputuskan untuk pulang dan beristirahat. Setibanya di rumah keadaan sepertinya masih sama seperti kemarin-kemarin saat aku masih membujang, ngak ada yg berubah... tiba tiba

"Udah pulang kamu beb?" tanya Melda diiringi dengan senyum

"Sorry yah tadi gue ngak sempet masak, kita delivery aja yuk" sambungnya.

Tanpa mengeluarkan satu katapun aku berjalan pergi meninggalkannya, seperti belum yakin kalao semua ini udah terjadi. Setelah mandi aku nyalakan TV, ngak lama setelah itu terdengar bunyi bel dari pintu depan, ternyata kedua orang tua kami datang berkunjung.

"Ehhh... kok ngak bilang kalau mau dateng...?" tanya Melda kepada kedua orangtua kami sambil menggandeng tanganku,

Tangan Melda terasa dingin, mungkin karena dia baru selesai mandi dan sepertinya Melda belum memakai daleman. Kedua buah dadanya menjepit lenganku, dan entah sengaja atau tidak, Melda mulai mengosokan kedua buah dadanya naik-turun.

Sebenarnya kejadian itu sangat aku nikmati namun karena memang pada dasarnya kami ngak memiliki rasa cinta, jadi aku memutuskan untuk bersikap normal aja.

Kunjungan kedua orang tua kami berakhir hingga malam hari, kejadian tadi membuatku bingung harus bersikap seperti apa lagi. Seumur hidup baru pernah aku diperlakukan seperti tadi, bisa saja kejadian tadi kunikmati, tetapi Melda bukanlah wanita yg kucintai.

Yang anehnya lagi, hingga kedua orang tua kami pulang Melda tetap menggandeng tanganku, seakan dia ngak ingin dilepaskannya. Tidak ingin terus dalam keadaan yang membuatku seperti orang bodoh itu, kulepaskan tanganku dari dekapannya dan pergi ke ruang kerjaku

Langkah kakiku menuju ruang kerja terasa semakin berat, Melda sebenarnya hanya ingin memulai sesuatu yang baik, tetapi mungkin aku terlalu serius menanggapinya. Saat pekerjaan kantorku hampir selesai Melda datang menghampiriku

"Masih marah ya beb?, maaf deh lain kali gue bakal ngasih tau kamu dulu kalau gue mau berimprovisasi" suara Melda terdengar pelan penuh penyesalan,

"Ngak, gue ngak marah kok... gue cuma bingung aja tadi, mau nanggepinnya gimana" balasku perlahan mulai ku sadari bahwa ngak ada jalan keluar lain selain membicarakan semua masalah dengan baik-baik.

"Ya sudah, kalo gitu gue tidur duluan yah.."sambung Melda dengan senyum manis di wajahnya

Terus langkahku kuarahkan kembali ke kamar. Di kamar Melda udah berada di atas tempat tidur, kakinya yg bersih dan putih membuat suasana hatiku ngak-karuan. Sikap Melda yg sangat baik padaku membuatku mulai menikmati perjodohan ini dan sedikit membuka hatiku bagi dia.

"Sini" ujar Melda sambil membetulkan posisi bantal yg berada di sampingnya


Kurebahkan tubuhku tepat disampingnya dan langsung kupejamkan mataku, berharap ngak terjadi hal-hal yg aneh malam itu

"loe masih punya pacar yah waktu kita nikah" tanya Melda. lalu kucoba untuk membuka mataku pelan-pelan, kutatap wajahnya yang sangat dekat denganku, posisi tubuh Melda sudah menindih sebagian tubuhku

"Ngak... emang napa beb?" tanyaku balik

"Penasaran aja sih, abisnya lo dingin banget..." jawab Melda sambil tersenyum kecil

"Gue cuman kaget aja, keadaan berubah drastis banget" ujarku

"Ohh… gue kira loe jeruk makan jeruk lagi…" sambung Melda

"Ahh... kamu kira gue maho beb?" jawabku bercanda ke Melda.

Sebegai laki-laki normal, firasatku mengatakan bahwa ada sesuatu yang ingin dikatakan oleh Melda tetapi dia masih malu karena sikapku yang masih begitu cuek, kucoba untuk memberi perhatian sedikit untuknya.

Kucoba elus-elus rambutnya, dan benar saja, Melda langsung menyandarkan kepalanya di bahuku. Aku naikan tanganku sedikit agar Melda bisa meletakkan kepalanya di dadaku. Tubuh Melda sangat hangat, kubiarkan tangannya menyusuri pinggangku lalu dipeluknya dengan erat yang membuat suasana itu menjadi romantis.

"Mel....kalau ada apa-apa,atau mau ngomong sesuatu, kasih tahu aja" ujarku untuk memecah suasana.

"kamu masih belum nerima kenyataan kalau kita sudah nikah ya?" tanya Melda suara mesra

"Dulu sih iya... tapi sekarang udah ngak... abis kamu baik dan cantik lagi" gombalku

"Ihhhh gombal..." Balas Melda, sambil mencubit pinggangku

"Kalau aku sih pasrah aja sama orang tuaku mau di suruh apa juga, yang penting pekerjaanku ngak keganggu" sambung Melda

Tak lama kemudian, kurasakan seperti ada yang mencongkel keluar jantungku dengan pisau yang sangat tajam, tak aku sangka sebenarnya selama ini walaupun perbuatanku kepada Melda sangat kasar, ternyata dia masih memendam hasrat yg begitu dalam padaku.

Mulailah Melda mencium bibirku, selama beberapa menit kami mempertahankan posisi seperti itu. hingga ciuman kami semakin memanas.

Melda membuka bajunya perlahan, sedikit demi sedikit gumpalan tokednya yg di dada itu mulai tersingkap, ukuranya benar-benar sangat montok. Pokoknya persis satu gumpalan dari genggamanku.

Melda langsung menarik kepalaku ke arah buah dadanya. Kujilat melingkar yg membentuk huruf O disekitar puting tokednya.

"Hhhhmmmhh…enak beb,,,terus..,,terus.." desah Melda yg membuatku bersemangat melakukannya.

Mungkin ada sekitar 10 menit kuserang kedua payudaranya, hanya suara desahan yang keluar dari bibir manis itu.

Gila...!!! dengan cepat Melda merubah posisiku, dia mendorongku ke kasur dan langsung meremas-remas kontolku.

"Besar juga ya beb" komentar Melda sambil tersenyum mengenggam kontolku

Melda mulai mengurut urat-urat dari kontolku dengan lemah lembut. Apalagi Melda menempelkan bibirnya ke ujung kepala kontolku dan menghisapnya pelan-pelan.

Tak lama kemudian"udah... udah..."ujarku sambil mencoba menarik kontolku keluar dari mulut Melda,

Dan sekarang dia yang aku tidurkan di atas kasur, sehingga kami berubah posisi lagi.

Perlahan mulai kujilati daging yg berada di belahan vagiannya itu, ku mainkan suasana dengan sesekali mempercepat jilatanku di lubang kemaluannya. Semakin cepat kujilat, semakin Melda menjepit kepalaku di tengah kedua pahanya.

"Kalau gue tau enaknya gak ketulungan gini... gue pengen gini tiap hari" gumam Melda

Ku teruskan permainanku hingga kurasakan suatu cairan keluar membasahi memeknya. Melda hanya terbaring di tempat tidur, sambil terus mendesah keenakan "Ouuuuuhhhh... Sssshhh... Ahh...." suara desahannya

Kumasukkan kontolku perlahan kedalam memek Melda. Terasa hangat, enak dan sempit, seperti di jepit daging empuk. Saat semua bagian udah mulai terbenam, kulihat Melda meneteskan air mata.

Sedih sekali melihatnya seperti itu, apalagi kulihat darah membekas di batang kontolku. Sejenak kupikir untuk melepaskan kontolku dari dalam memek Melda. Tetapi apa yg terjadi, Melda malah menggoyangkan pinggulnya

"Sakit ya beb?' tanyaku pelan

"udah ngak sakit kok" jawabnya

"Mau kita diterusin lagi beb?" tanyaku lagi

"iya, terserah kamu aja" jawab Melda semu manja

Perlahan mulai ku maju mundurkan pinggulku, yang semakin lama temponya aku tingkatkan. Begitu gerakanku terlalu cepat, terdengar lagi suara Melda menjerit-jerit" Ouhhhh... Ahhh... Ahhhhhh... Ssssshhhhh" suara jeritnya sangat keras sekali

Yang pada saat itu aku di kalahkan olehnya dengan beberapa kali goyang, sayangnya aku lupa meminum obat kuat yang sering di jual di pinggir jalan.

Crooot... Crooot...!!! air mani itu muncrat di dalam lubang memeknya, yang aku harapkan sebagai benih pertama untuk anakku.

Orgasme Melda disusul olehku, senang sekali melihatnya malah tertawa diakhir permainan kami.

Cairan yg keluar dari memek Melda bercampur sedikit dengan darah perawannya.

Hanya bisa tertawa, kami berdua tertawa sejadi-jadinya melihat perbuatan kami tadi. Akhirnya kami pun kelelahan dan tertidur pulas hingga pagi hari tiba.