Sensasi seks bersama Mbak Mira Yang Hot


Gadis Berjilbab Tergoda Nikmatnya Seks | Novel Hot www.novel-hot. com › Cerita Sex Jilbab 22 Jan 2017 - Gadis Berjilbab Tergoda Nikmatnya Seks. Cerita Hot – Tidak cakep sih mas itu, namun rayuannya membuat Ayu sangat tersanjung. Aku dan Gadis Berjilbab Itu « Surga Dunia https://surgadunia.wordpress.com/2007/05/14/aku-dan-gadis-berjilbab-itu/ 14 Mei 2007 - Singkat cerita aku mengajaknya untuk terlibat beberapa proyek di kantor kami. ... yakin bahwa gadis ayu ini telah berada dalam genggamanku. Pecahnya Perawan Ayu | Cerita Seks Seru abgcantikhot.blogspot.co.id/2014/05/pecahnya-perawan-ayu.html Cewek ini namanya Ayu, dia temen dari Dian anak SMP sebelah rumah kost gue. Sore itu gue lagi nongkrong di depan kost sambil maen gitar,hampir setengah ..


Payudara Milik Ibu Guru Muda
Selesai sekolah Sabtu itu langsung dilanjutkan rapat pengurus OSIS. Rapat itu dilakukan
sebagai persiapan sekaligus pembentukan panitia kecil pemilihan OSIS yang baru.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, pemilihan dimaksudkan sebagai regenerasi dan
anak-anak kelas 3 sudah tidak boleh lagi dipilih jadi pengurus, kecuali
beberapa orang pengurus inti yang bakalan “naik pangkat” jadi penasihat.
Usai rapat, aku bergegas mau langsung pulang, soalnya sorenya ada acara rutin
bulanan: pulang ke rumah orang tua di kampung. Belum sempat aku keluar dari
pintu ruangan rapat, suara nyaring cewek memanggilku.

“Didik .. “ aku menoleh, ternyata Farah yang langsung
melambai supaya aku mendekat.
“Dik, jangan pulang dulu. Ada sesuatu yang pengin aku
omongin sama kamu,” kata Farah setelah aku mendekat.
“Tapi Rah, sore ini aku mau ke kampung. Bisa nggak dapet bis
kalau kesorean,” jawabku.
“Cuman sebentar kok Dik. Kamu tunggu dulu ya, aku beresin
ini dulu,” Farah agak memaksaku sambil membenahi catatan-catatan rapat.
Akhirnya aku duduk kembali.
“Dik, kamu pacaran sama Mela ya?” tanya Farah setelah
ruangan sepi, tinggal kami berdua. Aku baru mengerti, Farah sengaja
melama-lamakan membenahi catatan rapat supaya ada kesempatan ngomong berdua
denganku.

“Emangnya, kenapa sih?” aku balik bertanya.
“Enggak ada apa-apa sih .. “ Farah berhenti sejenak.
“Emmm, pingin nanya aja.”
“Enggak kok, aku nggak pacaran sama Mela,” jawabku datar.
“Ah, masa. Temen-temen banyak yang tahu kok, kalau kamu suka
jalan bareng sama Mela, sering ke rumah Mela,” kata Farah lagi.
“Jalan bareng kan nggak berarti pacaran tho,” bantahku.
“Paling juga pakai alasan kuno ‘Cuma temenan’,” Farah
berkata sambil mencibir, sehingga wajahnya kelihatan lucu, yang membuatku
ketawa.
“Cowok di mana-mana sama aja, banyak bo’ongnya.”
“Ya terserah kamu sih kalau kamu nganggep aku bohong. Yang
jelas, aku bilang bahwa aku nggak pacaran sama Mela.”


Aku sama sekali tidak
bohong pada Farah, karena aku sama Mela memang sudah punya komitmen untuk
‘tidak ada hubungan lebih. Maksudnya, hubunganku dengan Mela hanya sekedar
untuk kesenangan dan kepuasan, tanpa janji atau ikatan di kemudian hari. Hal
itu yang kujelaskan seperlunya pada Farah, tentunya tanpa menyinggung soal
‘seks’ yang jadi menu utama hubunganku dengan Mela.

Aku dan Farahpun berpisah di gerbang sekolah. Farah sudah
ditunggu sopirnya, sedang aku langsung menuju halte. Sebelum berpisah, aku
sempat berjanji untuk main ke rumah Farah lain waktu.

Diam-diam aku merasa geli. Masak malam minggu itu
jalan-jalan sama Farah harus ditemani kakaknya, dan diantar sopir lagi.
Jangankan untuk ML, sekedar menciumpun rasanya hampir mustahil. Sebenarnya aku
agak ogah-ogahan jalan-jalan model begitu, tapi rasanya tidak mungkin juga
untuk membatalkan begitu saja.


Rupanya aturan orang tua Farah yang ketat itu, bakalan
membuat hubunganku dengan Farah jadi sekedar roman-romanan saja. Praktis acara
pada saat itu hanya jalan-jalan ke Mall dan makan di ‘food court’. Di tengah
rasa bete itu aku coba menghibur diri dengan mencuri-curi pandang pada Mbak Mira,
baik pada saat makan ataupun jalan. Mbak Mira, adalah kakak sulung Farah yang
kuliah di salah satu perguruan tinggi terkenal di kota ‘Y’. Dia pulang setiap 2
minggu atau sebulan sekali. Sama sepertiku, hanya beda level. Kalau Mbak Mira
kuliah di ibukota propinsi dan mudik ke kotamadya, sedang aku sekolah di
kotamadya mudiknya ke kota kecamatan. Wajah Mbak Mira sendiri hanya masuk
kategori lumayan.

Agak jauh dibandingkan Farah. Kuperhatikan wajah Mbak Mira
mirip ayahnya sedang Farah mirip ibunya. Hanya Mbak Mira ini lumayan tinggi,
tidak seperti Farah yang pendek, meski sama-sama agak gemuk. Kuperhatikan daya
tarik seksual Mbak Mira ada pada toketnya. Lumayan gede dan kelihatan menantang
kalau dilihat dari samping,beritaseks.com sehingga rasa-rasanya ingin tanganku
menyusup ke balik T-Shirtnya yang longgar itu. Aku jadi ingat Mela. Ah,
seandainya aku tidak ke rumah Farah, pasti aku sudah melayang bareng Mela. Saat
Farah ke toilet, Mbak Mira mendekatiku.


“Heh, awas kamu jangan macem-macem sama Farah!” katanya
tiba-tiba sambil memandang tajam padaku.
“Maksud Mbak, apa?” aku bertanya tidak mengerti.
“Farah itu anak lugu, tapi kamu jangan sekali-kali manfaatin
keluguan dia!” katanya lagi.
“Ini ada apa sih Mbak?” aku makin bingung.
“Alah, pura-pura. Dari wajahmu itu kelihatan kalau kamu dari
tadi bete,” aku hanya diam sambil merasa heran karena apa yang dikatakan Mbak Mira
itu betul.
“Kamu bete, karena malem ini kamu nggak bisa ngapa-ngapain
sama Farah, ya kan?” aku hanya tersenyum, Mbak Mira yang tadinya tutur katanya
halus dan ramah berubah seperti itu.
“Eh, malah senyam-senyum,” hardiknya sambil melotot.
“Memang nggak boleh senyum. Abisnya Mbak Mira ini lucu,”
kataku.
“Lucu kepalamu,” Mbak Mira sewot.
“Ya luculah. Kukira Mbak Mira ini lembut kayak Farah,
ternyata galak juga!” Aku tersenyum menggodanya.
“Ih, senyam-senyum melulu Senyummu itu senyum mesum tahu,
kayak matamu itu juga mata mesum!” Mbak Mira makin naik, wajahnya sedikit
memerah.
“Mbak cakep deh kalau marah-marah,” makin Mbak Mira marah,
makin menjadi pula aku menggodanya.
“Denger ya, aku nggak lagi bercanda. Kalau kamu berani
macem-macem sama adikku, aku bisa bunuh kamu!” kali ini Mbak Mira nampak
benar-benar marah.

Akhirnya kusudahi juga menggodanya melihat Mbak Mira seperti
itu, apalagi pengunjung mall yang lain kadang-kadang menoleh pada kami.
Kuceritakan sedikit tentang hubunganku dengan Farah selama ini, sampai pada
acara ‘apel’ pada saat itu.

“Kalau soal pengin ngapa-ngapain, yah, itu sih awalnya
memang ada. Tapi, sekarang udah lenyap. Farah sepertinya bukan cewek yang tepat
untuk diajak ngapa-ngapain, dia mah penginnya roman-romanan aja,” kataku
mengakhiri penjelasanku.
“Kamu ini ngomongnya terlalu terus-terang ya?” Nada Mbak Mira
sudah mulai normal kembali.
“Ya buat apa ngomong mbulet. Bagiku sih lebih baik begitu,”
kataku lagi.
“Tapi .. kenapa tadi sama aku kamu beraninya lirak-lirik
aja. Nggak berani terus-terang mandang langsung?” Aku berpikir sejenak mencerna
maksud pertanyaan Mbak Mira itu. Akhirnya aku mengerti, rupanya Mbak Mira tahu
kalau aku diam-diam sering memperhatikan dia.
“Yah .. masak jalan sama adiknya, Mbak-nya mau diembat
juga,” kataku sambil garuk-garuk kepala.


Setelah itu Farah muncul dan
dilanjutkan acara belanja di dept. store di mall itu. Selama menemani kakak
beradik itu, aku mulai sering mendekati Mbak Mira jika kulihat Farah sibuk
memilih-milih pakaian. Aku mulai lancar menggoda Mbak Mira. Hampir jam 10 malam
kami baru keluar dari mall. Lumayan pegal-pegal kaki ini menemani dua cewek
jalan-jalan dan belanja. Sebelum keluar dari mall Mbak Mira sempat memberiku
sobekan kertas, tentu saja tanpa sepengetahuan Farah.
“Baca di rumah,” bisiknya.

Aku lega melihat Mbak Mira datang ke counter bus PATAS AC
seperti yang diberitahukannya lewat sobekan kertas. Kulirik arloji menunjukkan
jam setengah 9, berarti Mbak Mira terlambat setengah jam.
“Sori terlambat. Mesti ngrayu Papa-Mama dulu, sebelum
dikasih balik pagi-pagi,” Mbak Mira langsung ngerocos sambil meletakkan
hand-bag-nya di kursi di sampingku yang kebetulan kosong.
Sementara aku tak berkedip memandanginya. Mbak Mira nampak
sangat feminin dalam kulot hitam, blouse warna krem, dan kaos yang juga
berwarna hitam. Tahu aku pandangi, Mbak Mira memencet hidungku sambil
ngomel-ngomel kecil,dan kami pun tertawa. Hanya sekitar sepuluh
menit kami menunggu, sebelum bus berangkat. Dalam perjalanan di bus, aku tak
tahan melihat Mbak Mira yang merem sambil bersandar. Tanganku pun mulai
mengelu-elus tangannya. Mbak Mira membuka mata, kemudian bangun dari
sandarannya dan mendekatkan kepalanya padaku.


“Gimana, Mbaknya mau di-embat juga?” ledeknya sambil
berbisik.
“Kan lain jurusan,” aku membela diri.
“Adik-nya jurusan roman-romanan, Mbak-nya jurusan … “ Aku
tidak melanjutkan kata-kataku, tangan Mbak Mira sudah lebih dulu memencet
hidungku. Selebihnya kami lebih banyak diam sambil tiduran selama perjalanan.


Yang disebut kamar kos oleh Mbak Mira ternyata sebuah
paviliun. Paviliun yang ditinggali Mbak Mira kecil tapi nampak lux, didukung
lingkungannya yang juga perumahan mewah.


“Kok bengong, ayo masuk,” Mbak Mira mencubit lenganku.
“Peraturan di sini cuman satu, dilarang mengganggu tetangga.
Jadi, cuek adalah cara paling baik.” Aku langsung merebahkan tubuhku di karpet
ruang depan, sementara setelah meletakkan hand-bag-nya di dekat kakiku, Mbak Mira
langsung menuju kulkas yang sepertinya terus on.
“Nih, minum dulu, habis itu mandi,” kata Mbak Mira sambil
menuangkan air dingin ke dalam gelas.
“Kan tadi udah mandi Mbak,” kataku.
“Ih, jorok. Males aku deket-deket orang jorok,” Mbak Mira
tampak cemberut.
“Kalau gitu, aku duluan mandi,” katanya sambil menyambar
hand-bag dan menuju kamar. Aku lihat Mbak Mira tidak masuk kamar, tapi hanya
membuka pintu dan memasukkan hand-bag-nya. Setelah itu dia berjalan ke belakang
ke arah kamar mandi.
“Mbak,” Mbak Mira berhenti dan menoleh mendengar
panggilanku.
“Aku mau mandi, tapi bareng ya?”
“Ih, maunya .. “ Mbak Mira menjawab sambil tersenyum.


Melihat itu aku langsung bangkit dan berlari ke arah Mbak Mira. Langsung
kupeluk dia dari belakang tepat di depan pintu kamar mandi.

Kusibakkan rambutnya, kuciumi leher belakangnya, sambil
tangan kiriku mengusap-usap pinggulnya yang masih terbungkus kulot. Terdengar
desahan Mbak Mira, sebelum dia memutar badan menghadapku. Kedua tangannya
dilingkarkan ke leherku.

“Katanya mau mandi?” setelah berkata itu, lagi-lagi hidungku
jadi sasaran, dipencet dan ditariknya sehingga terasa agak panas. Setelah itu
diangkatnya kaosku, dilepaskannya sehingga aku bertelanjang dada. Kemudian
tangannya langsung membuka kancing dan retsluiting jeans-ku. Lumayan cekatan
Mbak Mira melakukannya, sepertinya sudah terbiasa. Seterusnya aku sendiri yang
melakukannya sampai aku sempurna telanjang bulat di depan Mbak Mira.
“Ih, nakal,” kata Mbak Mira sambil menyentil rudalku yang
terayun-ayun akibat baru tegang separo.

“Sakit Mbak,” aku meringis.
“Biarin,” kata Mbak Mira yang diteruskan dengan melepas
blouse-nya kemudian kaos hitamnya, sehingga bagian atas tinggal BH warna hitam
yang masih dipakainya.
Aku tak berkedip memandangi sepasang toket Mbak Mira yang
masih tertutup BH, dan Mbak Mira tidak melanjutkan melepas pakainnya semua
sambil tersenyum menggoda padaku. Birahi benar-benar sudah tak bisa kutahan.
Langsung kuraih dan naikkan BH-nya, sehingga sepasang toket-nya yang besar itu
terlepas.
“Ih, pelan-pelan. Kalau BH-ku rusak, emangnya kamu mau
ganti,” lagi-lagi hidungku jadi sasaran.

Tapi aku sudah tidak peduli. Sambil
memeluknya mulutku langsung mengulum tokenya yang sebelah kanan. Mbak Mira
tidak berhenti mendesah sambil tangannya mengusap-usap rambutku. Aku makin
bersemangat saja, mulutku makin rajin menggarap toketnya sebelah kanan dan kiri
bergantian. Kukulum, kumainkan dengan lidah dan kadang kugigit kecil. Akibat
seranganku yang makin intens itu Mbak Mira mulai menjerit-jerit kecil di
sela-sela desahannya. Beberapa menit kulakukan aksi yang sangat dinikmati Mbak Mira
itu,beritaseks.com sebelum akhirnya dia mendorong kepalaku agar terlepas dari
toketnya. Mbak Mira kemudian melepas BH, kulot dan CD-nya yang juga berwarna
hitam. Sementara bibirnya nampak setengah terbuka sambil mendesi lirih dan
matanya sudah mulai sayu, pertanda sudah horny berat. Belum sempat mataku
menikmati tubuhnya yang sudah telanjang bulat, tangan kananya sudah menggenggam
rudalku. Kemudian Mbak Mira berjalan mundur masuk kamar mandi sementara rudalku
ditariknya.


Aku meringis menahan rasa sakit, sekaligus pengin tertawa
melihat kelakuan Mbak Mira itu. Mbak Mira langsung menutup pintu kamar mandi
setelah kami sampai di dalam, yang diteruskan dengan menghidupkan shower.
Diteruskannya dengan menarik dan memelukku tepat di bawah siraman air dari
shower. Dan …
“mmmmhhhh ….” bibirnya sudah menyerbu bibirku dan
melumatnya. Kuimbangi dengan aksi serupa. Seterusnya, siraman air shower
mengguyur kepala, bibir bertemu bibir, lidah saling mengait, tubuh bagian depan
menempel ketat dan sesekali saling menggesek, kedua tangan mengusap-usap bagian
belakang tubuh pasangan,
“Aaaaaahhh,” nikmat luar biasa.

Tak ingat berapa lama kami
melakukan aksi seperti itu, kami melanjutkannya dalam posisi duduk, tak ingat
persis siapa yang mulai. Aku duduk bersandar pada dinding kamar mandi, kali ku
luruskan, sementar Mbak Mira duduk di atas pahaku, lututnya menyentuh lantai
kamar mandi. Kemudian kurasakan Mbak Mira melepaskan bibirnya dari bibirku,
pelahan menyusur ke bawah. Berhenti di leherku, lidahnya beraksi menjilati
leherku, berpMira-pMira. Setelah itu, dilanjutkan ke bawah lagi, berhenti di
dadaku. Sebelah kanan-kiri, tengah jadi sasaran lidah dan bibirnya. Kemudian
turun lagi ke bawah, ke perut, berhenti di pusar. Tangannya menggenggam
rudalku, didorong sedikit ke samping dengan lembut, sementara lidahnya terus
mempermainkan pusarku.

Puas di situ, turun lagi, dan bijiku sekarang yang jadi
sasaran. Sementara lidahnya beraksi di sana, tangan kanannya mengusap-usap
kepala rudalku dengan lembut. Aku sampai berkelojotan sambil mengerang-erang
menikmati aksi Mbak Mira yang seperti itu. Pelahan-lahan bibirnya merayap naik
menyusuri batang rudalku, dan berhenti di bagian kepala, sementara tangannya
ganti menggenggam bagian batang. Kepala rudalku dikulumnya, dijilati, berpMira
dan berputar-putar, sehingga tak satu bagianpun yang terlewat. Beberapa saat
kemudian, kutekan kepala Mbak Mira ke bawah, sehingga bagian batangku pun masuk
2/3 ke mulutnya. Digerakkannya kepalanya naik turun pelahan-lahan,
berkali-kali. Kadang-kadang aksinya berhenti sejenak di bagian kepala, dijilati
lagi, kemudian diteruskan naik turun lagi.

Pertahananku nyaris jebol, tapi aku belum mau terjadi saat
itu. Kutahan kepalanya, kuangkat pelan, tapi Mbak Mira seperti melawan. Hal itu
terjadi beberapa kali, sampai akhirnya aku berhasil mengangkat kepalanya dan
melepas rudalku dari mulutnya. Kuangkat kepala Mbak Mira, sementara matanya
terpejam. Kudekatkan, dan kukulum lembut bibirnya. Pelan-pelan kurebahkan Mbak Mira
yang masih memejamkan mata sambil mendesis itu ke lantai kamar mandi. Kutindih
sambil mulutku melahap kedua toketnya, sementara tanganku meremasnya
bergantian.


Erangannya, desahannya, jeritan-jeritan kecilnya
bersahut-sahutan di tengah gemericik siraman air shower. Kuturunkan lagi
mulutku, berhenti di gundukan yang ditumbuhi bulu lebat, namun tercukur dan
tertata rapi. Beberapa kali kugigit pelan bulu-bulu itu, sehingga pemiliknya
menggelinjang ke kanan kiri. Kemudian kupisahkan kedua pahanya yang putih,besar
dan empuk itu. Kubuka lebar-lebar. Kudaratkan bibirku di bibir vaginanya,
kukecup pelan. Kujulurkan lidahku, kutusuk-tusukan pelan ke daging menonjol di
antar belahan vagina Mbak Mira.


Pantat Mbak Mira mulai bergoyang-goyang pelahan, sementara
tangannya menjambak atau lebih tepatnya meremas rambutku, karena jambakannya
lembut dan tidak menyakitkan. Kumasukkan jari tengahku ku lubang vaginanya, ku
keluar masukkan dengan pelan. Desisan Mbak Mira makin panjang, dan sempat ku
lirik matanya masih terpejam. Kupercepat gerakan jariku di dalam lubang vaginanya,
tapi tangannya langsung meraih tanganku yang sedang beraksi itu dan menahannya.
Kupelankan lagi, dan Mbak melepas tangannya dari tanganku.
Setiap kupercepat lagi, tangan Mbak Mira meraih tanganku
lagi, sehingga akhirnya aku mengerti dia hanya mau jariku bergerak pelahan di
dalam vaginanya. Beberapa menit kemudian, kurasakan Mbak Mira mengangkat
kepalaku menjauhkan dari vaginanya. Mbak Mira membuka mata dan memberi isyarat
padaku agar duduk bersandar di dinding kamar mandi. Seterusnya merayap ke
atasku, mengangkang tepat di depanku. Tangannya meraih rudalku, diarahkan dan
dimasukkan ke dalam lubang vaginanya.
“Oooooooooooohh ,” Mbak Mira melenguh panjang dan matanya
kembali terpejam saat rudalku masuk seluruhnya ke dalam vaginanya. Mbak Mira
mulai bergerak naik-turun pelahan sambil sesekali pinggulnya membuat gerakan
memutar. Aku tidak sabar menghadapi aksi Mbak Mira yang menurutku terlalu
pelahan itu, mulai kusodok-sodokkan rudalku dari bawah dengan cukup cepat. Mbak
Mira menghentikan gerakannya, tangannya menekan dadaku cukup kuat sambil kepala
menggeleng, seperti melarangku melakukan aksi sodok itu. Hal itu terjadi
beberapa kali, yang sebenarnya membuatku agak kecewa, sampai akhirnya Mbak Mira
membuka matanya, tangannya mengusap kedua mataku seperti menyuruhkan memejamkan
mata.

Aku menurut dan memejamkan mataku. Setelah beberapa saat aku
memejamkan mata, aku mulai bisa memperhatikan dengan telingaku apa yang dari
tadi tidak kuperhatikan, aku mulai bisa merasakan apa yang dari tadi tidak
kurasakan.
Desahan dan erangan Mbak Mira ternyata sangat teratur dan
serasi dengan gerakan pantatnya,sehingga suara dari mulutnya, suara alat
kelamin kami yang menyatu dan suara siraman air shower seperti sebuah harmoni
yang begitu Mira. Dalam keterpejaman mata itu, aku seperti melayang-layang dan
sekelilingku terasa begitu Mira, seperti nama waMela yang sedang menyatu
denganku. Kenikmatan yang kurasakan pun terasa lain, bukan kenikmatan luar
biasa yang menhentak-hentak, tapi kenikmatan yang sedikit-sedikit, seperti
mengalir pelahan di seluruh syarafku, dan mengendap sampai ke ulu hatiku.


Beberapa menit kemudian gerakan Mbak Mira berhenti pas saat
rudalku amblas seluruhnya. Ada sekitar 5 detik dia diam saja dalam posisi
seperti itu. Kemudian kedua tangannya meraih kedua tanganku sambil melontarkan
kepalanya ke belakang. Kubuka mataku, kupegang kuat-kuat kedua telapak
tangannya dan kutahan agar Mbak Mira tidak jatuh ke belakang. Setelah itu
pantatnya membuat gerakan ke kanan-kiri dan terasa menekan-nekan rudal dan
pantatku.
“Aaa .. aaaaaa … aaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhh,” desahan dan
jeritan kecil Mbak Mira itu disertai kepala dan tubuhnya yang bergerak ke
depan. Mbak Mira menjatuhkan diri padaku seperti menubruk, tangannya memeluk
tubukku, sedang kepalanya bersandar di bahu kiriku. Ku balas memeluknya dan
kubelai-belai Mbak Mira yang baru saja menikmati orgasmenya. Sebuah cara
orgasme yang eksotik dan artistik. Setelah puas meresapi kenikmatan yang baru
diraihnya, Mbak Mira mengangkat kepala dan membuka matanya.

Dia tersenyum yang diteruskan mencium bibirku dengan lembut.
Belum sempat aku membalas ciumannya, Mbak Mira sudah bangkit dan bergeser ke
samping. Segera kubimbing dia agar rebahan dan telentang di lantai kamar mandi.
Mbak Mira mengikuti kemauanku sambil terus menatapku dengan senyum yang tidak
pernah lepas dari bibirnya. Kemudian kuarahkan rudalku yang rasanya seperti
empot-empotkan ke lubang vaginanya, kumasukkan seluruhnya. Setelah amblas
semuanya Mbak Mira memelekku sambil berbisik pelan.


“Jangan di dalam ya sayang, aku belum minum obat,” aku
mengangguk pelan mengerti maksudnya. Setelah itu mulai kugoyang-goyang pantatku
pelan-pelan sambil kupejamkan mata. Aku ingin merasakan kembali kenikmatan yang
sedikit-sedikit tapi meresap sampai ke ulu hati seperti sebelumnya. Tapi aku
gagal, meski beberapa lama mencoba. Akhirnya aku membuat gerakan seperti biasa,
seperti yang biasa kulakukan pada tante Ani atau Mela. Bergerak maju mundur
dari pelan dan makin lama makin cepat.


“Aaaah… Hoooohh,” aku hampir pada puncak, dan Mbak Mira
cukup cekatan.
Didorongnya tubuhku sehingga rudalku terlepas dari vaginanya.
Rupanya dia tahu tidak mampu mengontrol diriku dan lupa pada pesannya.
Seterusnya tangannya meraih rudalku sambil setengah bangun. Dikocok-kocoknya
dengan gengaman yang cukup kuat, seterusnya aku bergeser ke depan sehingga
rudalku tepat berada di atas perut Mbak Mira.

“Aaaaaaaah … aaaaaaahhh … crottt… crotttt ..,” beberapa kali
spermaku muncrat membasahi dada dan perut Mbak Mira. Aku merebahku tubuhku yang
terasa lemas di samping Mbak Mira, sambil memandanginya yang asyik mengusap
meratakan spermaku di tubuhnya.
“Hampir lupa ya?” lagi-lagi hidungku jadi sasarannya waktu
Mbak Mira mengucapkan kata-kata itu.

Selama di bus dalam perjalanan pulang aku memejamkan mata
sambil mengingat-ingat pengalaman yang baru saja ku dapat dari Mbak Mira. Saat
di kamar mandi, dan saat mengulangi sekali lagi di kamarnya. Seorang waMela
dengan gaya bersetubuh yang begitu lembut dan penuh perasaan.
“Kalau sekedar mengejar kepuasan nafsu, itu gampang. Tapi
aku mau lebih. Aku mau kepuasan nafsuku selaras dengan kepuasan yang terasa di
jiwaku.” Kepuasan yang terasa di jiwa, itulah hal yang kudapat dari Mbak Mira
dan hanya dari Mbak Mira, karena kelak setelah gonta-ganti pasangan, tetap saja
belum pernah kudapatkan kenikmatan seperti yang kudapatkan dari Mbak Mira.
Kepuasan dan kenikmatan yang masih terasa dalam jangka waktu yang cukup lama
meskipun persetubuhan berakhir.
“Ingat ya, jangan pernah sekali-kali kamu lakukan sama Farah.
Kalau sampai kamu lakukan, aku tidak akan pernah memaafkan kamu!” Aku
terbangun, rupanya dalam tidurku aku bermimpi Mbak Mira memperingatkanku
tentang Farah, adiknya. Dan bus pun sudah mulai masuk terminal.